August 26, 2026

SMP NEGERI 1 PECANGAAN

Green Religious Eco-Friendly Safety Smart

Meneladani Perjuangan Rasulullah SAW: Merdeka dari Malas, Berprestasi untuk Bangsa

Peringatan Maulid Nabi 2026

SMPN 1 Pecangaan — Sabtu, 22 Agustus 2026

Gedung Serbaguna SMPN 1 Pecangaan pagi itu terasa berbeda. Suasana penuh khidmat menyelimuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M yang mengangkat tema “Meneladani Perjuangan Rasulullah SAW: Merdeka dari Malas, Berprestasi untuk Bangsa.”

Kegiatan diawali lantunan salawat yang dibawakan Rebana Nurul Musthofa Spanca. Irama rebana yang menggema di seluruh ruangan seolah mengajak seluruh hadirin untuk sejenak menundukkan hati, mengingat sosok Rasulullah SAW dan meneladani perjuangan beliau. Suasana semakin syahdu ketika Aida Mursila Rizqi, siswi kelas 7D, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Lantunan ayat suci yang berpadu dengan gema rebana menghadirkan suasana yang semakin khusyuk. Bukan sekadar sebuah rangkaian acara, peringatan Maulid Nabi menjadi ruang untuk kembali bercermin: sudah sejauh mana kita mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari?

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala SMPN 1 Pecangaan, Drs. Bambang Dwi Joko Ish, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai momentum untuk menumbuhkan semangat belajar, memperbaiki diri, dan membangun karakter murid.

Pesan tersebut kemudian diperdalam melalui tausiah yang disampaikan Ustadz Muhammad Abdullah Badri.

Maulid Nabi Muhammad 1448 H

Merdeka dari Kemalasan

Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah tentang makna kemerdekaan. Kemerdekaan ternyata bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan secara fisik. Ada penjajahan lain yang sering kali tidak terlihat, tetapi justru dekat dengan kehidupan sehari-hari: kemalasan.

Kita boleh saja hidup di negeri yang telah merdeka, tetapi jika masih malas beribadah, malas belajar, malas bekerja, dan malas berbuat baik, sesungguhnya masih ada belenggu yang harus kita lepaskan.

Karena itu, kemerdekaan sejati juga berarti berani membebaskan diri dari kebiasaan yang menghambat langkah. Bagi seorang murid, merdeka dari malas berarti berani membuka buku ketika yang lain memilih bermain, berani mencoba ketika takut gagal, dan berani mengejar prestasi ketika menyerah terasa lebih mudah.

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang pintar, tetapi oleh generasi yang mau bergerak dan tidak menyerah pada kemalasan.

Belajar dari Kisah Ka’ab bin Zuhair

Ustadz Muhammad Abdullah Badri juga menyampaikan kisah Ka’ab bin Zuhair, seorang penyair pada zaman Rasulullah SAW.

Ka’ab memiliki saudara bernama Bujair bin Zuhair yang lebih dahulu memeluk Islam dan mengikuti Rasulullah SAW. Pada awalnya, Ka’ab tidak senang dengan keputusan saudaranya tersebut. Bahkan, ia mencela Rasulullah SAW melalui syair-syairnya.

Bujair kemudian menasihati Ka’ab agar berhenti mencela Rasulullah SAW dan segera bertaubat. Nasihat itu akhirnya mengetuk hati Ka’ab. Ia menyadari kesalahannya dan datang menghadap Rasulullah SAW untuk memohon penerimaan.

Di hadapan Rasulullah SAW, Ka’ab membacakan qasidah “Banat Su’ad”, sebuah syair yang berisi pujian dan sanjungan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menerima taubat Ka’ab. Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah SAW bahkan memberikan burdah, selendang atau jubah beliau, kepada Ka’ab. Kisah inilah yang kemudian menjadi salah satu kisah terkenal yang berkaitan dengan Burdah.

Dari kisah tersebut, ada pesan sederhana tetapi dalam: seseorang tidak selamanya harus didefinisikan oleh kesalahannya di masa lalu.

Peringatan Maulid

Setiap Orang Punya Kesempatan untuk Berubah

Kisah Ka’ab mengajarkan bahwa orang yang pernah melakukan kesalahan masih memiliki kesempatan untuk kembali dan memperbaiki diri.

Bahkan, kemampuan yang dahulu digunakan untuk sesuatu yang buruk dapat diarahkan menjadi sesuatu yang baik. Ka’ab yang sebelumnya menggunakan kemampuan bersyair untuk mencela, akhirnya menggunakan kemampuannya untuk memuji Rasulullah SAW.

Begitu pula dalam kehidupan murid. Tidak ada anak yang selamanya nakal, tidak ada seseorang yang selamanya gagal, dan tidak ada kesalahan yang harus menjadi alasan untuk berhenti berubah.

Yang terpenting adalah kemauan untuk menyadari kesalahan, meminta maaf, belajar, dan mencoba menjadi lebih baik.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa memaafkan dan memberi kesempatan kepada seseorang untuk berubah adalah bagian dari kasih sayang.

Peringatan Maulid Nabi di SMPN 1 Pecangaan akhirnya bukan sekadar tentang mengenang kelahiran manusia mulia. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah SAW harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan.

Merdeka dari malas. Merdeka dari rasa takut untuk berubah. Merdeka dari kebiasaan buruk. Dan merdeka untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Harapannya, melalui kegiatan ini seluruh keluarga besar SMPN 1 Pecangaan, khususnya para murid, semakin mengenal dan mencintai Rasulullah SAW, kemudian mampu menerapkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semangat tersebut diharapkan tumbuh menjadi karakter yang kuat: rajin beribadah, tekun belajar, berakhlak mulia, berani memperbaiki diri, serta bersemangat meraih prestasi.

Sebab pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada orang lain dan bangsanya.

Semoga dari Maulid Nabi tahun ini lahir semangat baru di SMPN 1 Pecangaan: lebih rajin, lebih berani berubah, lebih berprestasi, dan semakin dekat dengan keteladanan Rasulullah SAW.

Desita L. Asriningsih, S.Pd./Spanca Gress

Foto: Nasirul Umam, S.Kom.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Spanca Gress | Newsphere by AF themes.